Program Keluarga Harapan

Meraih Keluarga Sejahtera

KEMENTRIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

Mendulang Rupiah dari Tusuk Colok


Sumber : Iis Faridah_Peksos Supervisor Kab. Ciamis
Posting : Joko Hariyanto
Tanggal : 2018-11-23


Bagikan Berita

Ciamis - Tusuk Colok ? Apa itu ? tidak banyak orang yang tau. Hal itu, membuat barang yang satu ini banyak yang tidak melirik karena dianggap tidak menguntungkan. Namun, hal berbeda dilakukan Kube PKH (Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan) “Barokah” Dusun Puncaksari Desa Sukajadi Kecamatan Sadananya Kabupaten Ciamis. Kejelian ibu-ibu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH dalam melihat peluang yang ada dalam tusuk sate tersebut membuat rupiah demi rupiah mereka bisa raup. 

Usaha ini dirintis setelah Sri Mulyawati pendamping sosial di desa setempat memberikan modul ekonomi sesi membuka usaha dalam kegiatan FDS (Family Development Sessions) atau P2K2 (Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga). 

Ide usaha ini terlihat potensi nya oleh Sri ketika dalam penggalian potensi sumber yang dimiliki oleh anggota di kelompok FDS nya tersebut. Berawal dari cerita salah satu anggota yang bekerja membantu mencolok sate kulit di sekitar rumahnya. Banyaknya permintaan membuat tusuk colok selalu mengalami kekurangan. 

Melihat hal itu, KUBE-PKH ini mulai memproduksi tusuk colok dengan modal awal sebesar 300.000 rupiah yang dibelanjakan sapu lidi. Kelompok ini membeli sapu lidi kepada anggotanya. Setiap anggota diwajibkan membawa sepuluh ikat sapu lidi dengan harga 1.500 rupiah setiap ikatnya.  Pembuatan tusuk sate ini dilakukan anggota KUBE Barokah di rumah masing-masing dengan mengisi waktu senggang. 

“Setiap anggota dalam mengisi waktu senggang antara 2-3  jam per hari rata-rata mereka dapat membuat 30-35 ikat tusuk sate siap pakai.  Upah yang diberikan kepada mereka 1000 rupiah setiap ikat yang berhasil diselesaikan,” Aat Atmi ketua kelompok KUBE Barokah. 

Banyaknya pesanan membuat KUBE ini dalam waktu singkat bisa mengembalikan modal yang telah dikeluarkan. "Modal awal Alhamdulillah sudah dapat dikembalikan kepada anggota dan saat ini kami sudah memiliki uang kas untuk membeli bahan, kebutuhan  sosial kelompok dan pinjaman anggota untuk waktu yang singkat sebanyak Rp. 300.000,” tambah Aat. 

Aat mengaku pada awalnya sebagian besar anggota KUBE Barokah mengalami kesulitan membuat tusuk sate. "Pada awalnya tidak semua anggota bisa membuat tusuk sate ini dengan baik, karena untuk tusuk sate kulit harus benar-benar runcing, tetapi dengan diajari oleh Bu Ela yang sudah lama membuat, kami jadi bisa", tegas Aat Atmi.

Disamping itu, keterbatasan bahan baku juga menjadi kendala dalam produksi tusuk sate. Untuk itu, dengan dibantu pendamping dari desa terdekat kelompok usaha ini berhasil mengatasinya. 

Tusuk Lontong

Besarnya produksi ternyata membawa masalah tersendiri yaitu tidak terserap semua oleh pasar. Meski demikian, Aat mengaku tidak kawatir dengan hal tersebut karena tusuk yang tidak terjual dapat disimpan dan dapat diolah menjadi tusuk lontong. 

“Ibu-ibu bagaimana kalau dipilah kembali limbah tersebut untuk  pembuatan biting  (tusuk lontong atau pepes) sebelum dibakar agar  memiliki nilai tambah, apalagi penjual biting di sekitar pasar Ciamis belum ada", tutur Iis Peksos Supervisor. 

Ide tersebut disambut baik oleh anggota kelompok dan mereka langsung mendatangi pembuat lontong disekitar kampung tersebut. Mereka juga merencanakan akan mencoba menjualnya dengan dikemas dengan menggunakan platis dengan berat setiap ons. 

Meski saat ini perputaran uang  masih sedikit, Aat dan anggota kelompoknya berharap kedepannya Kube kelompoknya semakin maju dan menjadi titik awal mereka menuju graduasi mandiri.

 

Iis Faridah_Peksos Supervisor Kab. Ciamis