Program Keluarga Harapan

Meraih Keluarga Sejahtera

KEMENTRIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA

Kami Tak Menyerah Meski Harus Hadapi Sulitnya Medan


Sumber : Iwa Suhartiea
Posting :
Tanggal : 2019-06-25


Bagikan Berita

NTT, Pemerintah terus melalukan peningkatan kualitas Program Keluarga Harapan, Untuk itu, Kementerian Sosial terus melakukan evaluasi dan monitoring terhadap implemantasi pelaksanaan program dilapangan.

Direktur Jaminan Sosial Keluarga Kemensos RI Nur Pujianto mengaku telah menerjunkan petugas ke seluruh pelosok tanah air untuk melalukan monitoring dan evaluasi dengan tujuan tertentu termasuk ke padalaman Nusa Tenggara Timur. 

“Tujuan monitoring dan evaluasi ini adalah untuk mengetahui kedala yang terjadi dilapangan,” kata Nur Pudjianto. 

Nur mengakui perlu adanya masukan dari KPM agar kualitas PKH dapat meningkat dan bisa mempercepat pengentasan kemiskinan di Indonesia. Untuk itu, monitoring tersebut harus menyentuh seluruh KPM PKH meski harus menghadapi banyak kendala dilapangan seperti sulitnya medan menuju tempat tinggal mereka. 

“Monitoring ini tidaklah mudah kadang petugas kami dilapangan harus menempuh perjalanan yang jauh dan medan yang sulit. Mereka tetap semangat,” tambah Nur. 

Sulitnya medan dalam melaksanakan Monev tersebut juga dirasakan Tenaga Ahli Manajemen Data Kepersertaan PKH Kemensos RI Iwa Suhartiea. Iwa mengaku untuk menuju salah satau lokasi KPM di Nusa Tenggara Timur tidak mudah. Ia harus menempuh perjalanan selama lebih dari 3 jam untuk bisa sampai di kecamatan Aitun. 

“Di kecamatan itu ada 8 desa yang harus kita monitoring. Untuk sampai disana kami harus jalan darat dengan medan yang berliku,” jelas Iwa. 

Iwa menceritakan selain menggunakan moda teranportasi darat mereka dan timnya berjalan kaki untuk bisa mencapai desa Aitoun guna bertemu mama Edeltredus. 

“Perjalana kami untuk bertemu mama Edeltredus harus menyusuri jalan menuju kecamatan aitoun. Dari jalanan berbatu, sempit dan disertai jurang yang cukup terjal. Sulitnya medan membuat tim kehilangan arah. Beruntung kami bertemu bapak RT yang sedang berdiri dipinggir jalan. Berkat bapak tersebut kami bisa bertemu mama Edeltredus,” terang Iwa. 

Iwa mengaku sangat beruntung dan senang bisa bertemu dengan mama Edeltredus. Untuk itu, tanpa harus membuang waktu ia bersama dengan tim melakukan wawancara kepada KPM PKH asal Desa Aitoun, Dusun Saburaka RT 006 tersebut. Namun, iwa lagi-lagi masih harus menghadapi tantangan bahasa karena mama Edel tidak mengerti bahasa Indonesia. 

“Wawancara pertamapun dimulai, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Untuk komunikasi dengan mereka kami harus menggunakan jasa peterjemah bahasa daerah,” kata Iwa.

Selelah selesai melakukan wawancara dengan mama Edel, ia pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Asueman, Desa Aitoun, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Timor Barat yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

“Ada 3 sasaran KPM di dusun tersebut, namun sayang kami tidak dapat sampai ke desa tersebut karena rusaknya jalan yang dilalui. Jalur penghubung ke Dusun Asueman, Makir, Lamaksanulu, Mauhitas, Kecamatan Lamaknen dan sebagian wilayah Desa Aitoun yang terletak di garis perbatasan Belu dengan Maliana, Distric Bobonaro, Timor Leste ambruk akibat longsor,” imbuh Iwa. 

“Kondisi jalan yang nyaris putus akibat longsor disebabkan hujan deras yang melanda wilayah Belu dalam dua bulan terkahir. Ditambah dengan tidak ada saluran got atau drainase menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor,” lanjutnya.

Nur Pujianto berharap hasil evaluasi yang dilakukan di NTT dan propinsi lainnya bisa menjadi masukan berharga Kementerian Sosial RI. Untuk untuk itu, hasil monitoring tersebut akan dilakukan evaluasi menyeluruh segala kekurangan PKH.