PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

Berjihad Melawan Kemiskinan


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan Cerita

Suara bising mesin-mesin bubut saat pagi hari selalu mengawali aktivitas usaha pembuatan  kerajinan logam milik Mamla`ul Karimah (32). Karimah, panggilannya, bergelut akrab dengan kaleng dan plat besi. Ia menjadikan kegiatannya sebagai pelecut semangat untuk berjihad melawan kemiskinan.

Tak ada yang menyangka kehidupan Karimah berubah dari penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) menjadi pengrajin logam dengan omzet puluhan juta rupiah tiap bulannya. Kaleng dan plat besi berhasil disulapnya menjadi sebuah nilai kerajinan bernilai ekonomis tinggi, sehingga bisa mengantarkannya graduasi dari PKH.

Alumni Keluarga Penerima Manfaat (KPM) ini pun ditahbiskan menjadi inspirator bagi KPM lainnya di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Lantaran ia memutuskan Graduasi Mandiri dari kepesertaan PKH pada awal tahun 2020. Ia merasa telah cukup mendapatkan bantuan sosial PKH.

Bersama suaminya, Abdul Rozak (34), dua tahun belakangan usahanya di bidang kerajinan logam serta aksesoris sepeda motor, seperti knalpot, klep, baut dan handle chrome makin berkembang.

 

Menyongsong Kemandirian

Jika menengok ke masa awal ketika ia mendapatkan bantuan sosial PKH pada 2012, saat itu Karimah berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan guru madrasah.  Sang suami hanya seorang buruh berpenghasilan pas-pasan.

Bantuan sosial yang diterima saat itu hanya komponen balita. Pasangan ini tekun menyisihkan Rp 200 ribu untuk ditabung dari honor mengajar. Setelah beberapa tahun, tabungannya digunakan untuk memulai usaha kecil-kecilan di bidang logam aksesoris. Keterbatasan modal yang dimiliki pada saat itu membuat usaha yang dirintisnya hanya bisa digunakan untuk tambahan biaya kehidupan sehari-hari.

Pada 2017, kelompok dampingan saya yang beranggotakan 10 orang mendapat bantuan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Awalnya, saya mengenalkan usaha pembuatan dodol cikal (dodol kelapa).

Setelah berjalan satu tahun, keuntungan yang didapatkan dari KUBE dibagi. Sebanyak 70% untuk kesejahteraan seluruh anggota dan 30% untuk uang kas yang bisa digunakan oleh anggota sebagai simpan pinjam.

Bentuk keuntungan usaha KUBE juga dimanfaatkan untuk tambahan modal usaha kerajinan logam oleh Karimah, sebagai salah satu anggotanya. Langkah ini ditempuh setelah Karimah mendapatkan pembelajaran modul ekonomi tentang merencanakan usaha.

”Di awal memulai usaha ini, saya mengalami kesusahan baik dari modal dan pemasaran karena keterbatasan pengetahuan,” tutur suami Karimah, Rozak.

Motivasi dari saya sebagai pendamping PKH nampaknya berhasil ia aplikasikan dalam usahanya. Agar pasarnya lebih berkembang, saya beri masukan agar produknya dijual secara online. Lantaran awal penjualan produknya dilakukan dengan cara menawarkan keliling ke toko-toko dengan membawa sampel. Apabila toko tersebut berminat barulah diproduksi dalam skala besar.

Seiring berjalannya waktu, Karimah memanfaatkan media sosial, Facebook dan aplikasi WhatsApp untuk mempromosikan dan mengenalkan produknya. Ketika dipasarkan secara online inilah produknya semakin luas dikenal masyarakat, order yang didapatkannya pun semakin banyak.

Saya selalu menyemangati jangan takut gagal dalam menjalankan usaha. Ketika gagal, evaluasi apa yang menjadi penyebab kegagalan, setelah itu rencanakan apa yang menjadi target kedepan.

Dengan semangatnya yang sangat keras untuk keluar dari kemiskinan, pasangan Karimah dan Rozak  sekarang sudah bisa menjadi pengrajin logam yang mempunyai tiga karyawan. Omzetnya pun merangkak naik. Pada tahun pertama hanya kisaran Rp 1 juta-Rp 3 juta per bulan dan pemasarannya hanya lokal.

Tanpa putus asa, pasangan ini semakin melebarkan pemasarannya sampai ke beberapa kota dengan omzet rata-rata Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Bahkan mereka pernah mendapatkan order sampai RP 50 juta. Dari hasil usahanya, mereka kini bisa membangun rumah sendiri dan keadaan ekonominya juga sudah stabil.

Pelanggan produk pasangan ini, Hartono yang merupakan salah satu pemilik toko variasi motor di Tegal mengatakan, knalpot buatan Karimah cukup diminati pelanggan karena rapi dan bagus. Harganya pun sangat terjangkau dengan kualitas produk yang tidak kalah dengan barang impor.

Kesuksesan usaha Karimah-Rozak membuahkan langkah graduasi PKH pada awal 2020. Kisah Karimah ternyata menginspirasi graduasi bagi KPM lainnya yang sudah mandiri atau sejahtera secara ekonomi.

Selain Ibu Karimah ada pula Ibu Toatin, penerima bansos PKH yang menjadi KPM dampingan saya yang bertekad bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Ibu rumah tangga ini berniat membantu suaminya yang bekerja sebagai sopir pengangkut pasir. Ia memberanikan diri membuka usaha depot pasir yang melayani jual beli tanah urug dari batu gamping dari sekitar daerah perbukitan Kabupaten Tegal.

“Ketika mendapatkan bantuan PKH, perekonomian keluarga saya sangat minim. Namun, bimbingan pendamping membuka wawasan untuk mencari peluang usaha,” ujar Toatin.

Kini omzet yang usahanya per minggu mencapai 10-15 rit pasir dengan harga per rit satu dump pasir kecil sekitar Rp 350 ribuRp 450 ribu. Dua armada truknya turut melengkapi aset depot pasirnya.

Pengembangan lahan sekitar sebagai perumahan turut mendongkrang usaha Toatin. Para pengembang perumahan membutuhkan 150 rit pasir dalam satu bulan. Berkah dari pasir itulah yang membuat keluarga Toatin memutuskan untuk graduasi mandiri.

Oleh: Amin Ibnu Umar