PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

MENYIAPKAN LALU MELEPASKAN


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan Cerita

Pada tahun 2007 saya mulai bertugas sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH).

Tugasnya antara lain mendampingi, memfasilitasi, memotivasi dan mengedukasi 239 RTSM (Rumah Tangga Sangat Miskin) kala itu, yang sekarang lebih dikenal dengan istilah KPM. Ada tiga desa dampingan saya yakni Desa Mandala, Desa Cisaat dan Desa Sindangjawa, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

Terhadap KPM dampingan, saya mengarahkan agar uang bansos dikelola dengan baik, mengajarkan cara mengatur keuangan rumah tangga, juga mengenalkan konsep kemandirian ekonomi masyarakat prasejahtera ini.

Saya bergerilya membangun beberapa hal pendukung di luar tugas utama sebagai pendamping PKH yang dapat memperteguh sisi sosial dan ekonomi mereka. Tujuan saya kala itu ingin membangun sebuah sistem pertahanan agar lebih kuat di lingkungan KPM jika mereka lepas dari intervensi program.

Salah satunya adalah melalui Usaha Kampung Domba yang berdiri pada 14 Oktober 2015. Berawal dari kejenuhan dalam kegiatan rutinitas yang kurang berdampak sosial, saya bersama para pemuda Desa Sindangjawa menggagas usaha ini.

Awalnya, Usaha Kampung Domba hanya memiliki satu program yakni Peternakan Kampung Domba yang berfokus pada penjualan domba, selang dua tahun semua programnya mengubah kondisi desa. Usaha ini telah berkembang dari peternakan kemudian penggemukan, pengembangbiakan, dan jasa aqiqah hingga pemanfaatan limbah ternak untuk pupuk organik.

Pada tahun 2016 saya terpilih sebagai Ketua Karang Taruna Kecamatan Dukupuntang, satu wilayah dengan KPM Binaan. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Seperti kata pepatah, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Saya bersama teman-teman karang taruna menggagas lahirnya Koperasi Sinergi Kampung Domba (SiKADO) pada 15 Juni 2016. 

Koperasi serba usaha tersebut mengacu pada misi ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan pemuda desa. Membangun sektor ekonomi dalam wadah koperasi, saya amati sebagai kebutuhan yang dipandang sangat penting bagi kesejahteraan perekonomian masyarakat.

SiKADO berkolaborasi antara Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon dan Unit Ekonomi Produktif (UEP) Karang Taruna Sindangjawa. Penyatuan dua unsur ini atas dasar kebersamaan, kesadaran, keterbukaan, dan keyakinan untuk maju bersama.

Semangat tersebut menggugah hati Bupati Cirebon Wahyu Tjiptaningsih untuk berkunjung dan meresmikan SiKADO pada 6 Oktober 2016. Sejak itu, animo warga semakin tinggi. Dalam waktu sebulan saja jumlah anggota koperasi mencapai 153 orang. Minat mereka untuk menabung sangat baik. Kantor mulai ramai dengan aktivitas transaksi.

Sebagai inisiator, saya bertekad tidak ingin membangun mental anggota menjadi peminjam ulung. Menurut saya masyarakat diajak dulu untuk menabung dan membesarkan koperasi. Kemandirian dan kerja sama harus diutamakan. Itulah harapan saya sebagai Ketua sekaligus Manajer Koperasi SiKADO.

Sebagai pemilik, para KPM dapat mengakses fasilitas dari koperasi yang terbagi dalam tiga unit pengembangan agribisnis dan satu unit program sosial kemasyarakatan yakni:

  1. Unit Simpan Pinjam
  2. Unit Toko Pangan Sikado Fresh
  3. Unit Sosial Kado Berbagi
  4. Unit Ternak Kampung Domba

Fasilitas pertama, yakni akses permodalan dan layanan simpanan di Unit Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (USPPS) Koperasi SiKADO. Di sini para KPM PKH dapat langsung ikut terjun mempraktikkan kemandirian ekonomi yang dibangun melalui koperasi. Kini, anggota aktif koperasi telah mencapai 620 orang dengan nilai aset Rp 1,2 miliar.

Fasilitas kedua berbentuk ritel modern Toko Pangan SiKADO Fresh. Melalui unit usaha tersebut, hasil produksi pertanian para KPM langsung dapat disalurkan dan dipasarkan kepada masyarakat. Tujuannya memicu produksi dan meningkatkan kesejahteraan petani. Guna meningkatkan kapasitas anggota, pengurus koperasi juga menyelenggarakan pendidikan dan keterampilan berwirausaha yang diagendakan secara berkala.

Tentu KPM wajib berbelanja di unit usaha tadi karena keuntungan dari transaksi akan kembali kepada mereka dalam bentuk langsung (harga murah) maupun tidak langsung yang akan dibagikan setiap akhir dalam RAT Koperasi (Rapat Akhir Tahun) berbentuk SHU (Sisa Hasil Usaha).

Fasilitas ketiga, bagi KPM yang mengalami gangguan kesehatan, tersedia layanan terapi bekam dan pijat refleksi gratis dari Unit Sosial Kado Berbagi Koperasi SiKADO yang dibuka seminggu sekali. Unit koperasi ini juga menjadi unit unggulan dan mendapatkan penghargaan Juara I dalam ajang Pronangkis Award, juara II Inovasi Sosial dan juara II Wahana Kesejahteraan Sosial di tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Terakhir adalah Unit Ternak Kampung Domba yang menjadi usaha awal dikembangkan, terutama ketika masa pandemi COVID-19. Para KPM mendapatkan program ketahanan pangan keluarga bernama Kebun Surga (Kebun Sayur Keluarga) Koperasi SiKADO. Mereka mendapatkan bibit sayuran gratis serta disediakan kelas konsultasi pangan gratis manakala mereka ingin mengembangkan kebun sayurnya.

 

Anak KPM Mampu Berprestasi

Selain sisi kesejahteraan, saya berupaya agar KPM PKH mendapatkan fasilitas kesehatan dan pendidikan yang layak, serta lingkungan pergaulan yang kondusif, harmonis dan tersedia ruang-ruang kreatif.

Tujuan tersebut mendorong saya dan teman-teman mengaktifkan kegiatan positif di desa-desa serta membangun jejaring dengan semua organisasi dan komunitas kepemudaan secara berkala.

Tujuannya agar anak-anak KPM terwarnai dengan kegiatan positif dan meminimalisir akses pergaulan negatif. Memastikan generasi penerus sehat secara jasmani dan rohani.

Partisipasi anak muda dalam program ini pun beragam. Rani, anak Darinah (KPM Desa Cisaat) ikut terlibat menjadi pengurus Puskesos di desanya. Sulaeman, putra dari  Muah (KPM Desa Cisaat), meskipun ia masuk club motor XTC tetap aktif dalam kegiatan sosial di wilayahnya. Selain itu Hilda, putri dari Askemi (KPM Desa Sindangjawa) juga andil menjadi pengelola koperasi.

 

Detik-Detik Graduasi Mandiri

Rabu, 19 Agustus 2020 saya mulai mengagendakan pertemuan kelompok dampingan secara bertahap. Tujuan pertemuan ini adalah menyampaikan tentang konsep Graduasi Mandiri KPM PKH.

Saat memulai acara di kelompok pertama, jantung berdegup kencang, lidah mulai kelu dengan pembicaraan yang terbata-bata. Bingung harus dimulai dari mana, beberapa kali harus menghela nafas dan meyakinkan hati untuk berdialog bersama mereka dengan tenang dan perlahan.

Diawali dengan cerita kilas balik pada awal mereka menerima PKH,  lalu perlahan saya menyampaikan ajakan untuk memerdekakan diri dari program bantuan sosial PKH karena secara ekonomi mereka sudah cukup stabil.

Beberapa analogi untuk memperkokoh keyakinan mereka pun saya utarakan secara sistematis. Seperti analogi bahwa sebagaimana anak kecil yang awal mula disuapi makanan, seiring beranjak besar harus makan sendiri untuk mandiri.

Beberapa detik tak berani menatap wajah mereka. Lalu saya beranikan melempar senyum sambil menatap satu persatu. Ada mata yang berkaca-kaca karena haru, ada  wajah yang tegang dan ada pula yang membalas senyum rasa syukur.

Hati pun lega. Mereka begitu percaya diri. Beberapa orang mewakili ucapan terima kasih sudah diberi kesempatan mendapatkan program yang sangat membantu keluarga berangsur keluar dari jerat kemiskinan.

Setelah menyelesaikan misi ajakan graduasi mandiri di kelompok pertama semakin kuatlah kepercayaan diri saya untuk mengajak kelima kelompok lainnya. Walhasil, dalam tiga hari sebanyak 99 KPM desa Cisaat dan Mandala bersepakat untuk graduasi mandiri.

Menyiapkan lalu melepaskan, sebuah proses panjang memandirikan yang penuh tantangan dan kenangan.

 

Oleh: Duan Muwardi