PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

“Kakinya” Telah Kembali, Kini Mereka Graduasi Mandiri


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan Cerita

Ketika saya bertemu Atam (38), dia sudah menjadi tuna daksa. Status tersebut disandangnya karena kaki kirinya karena sebuah kecelakaan pada 2013 lalu.

Masih teringat dalam memori, saya menunggu beserta keluarganya di Ruang Tunggu RSUD Ciereng Kabupaten Subang. Atam harus menjalani operasi pencabutan besi yang telah mengendap di kakinya  selama empat tahun. Pasca operasi tersebut, semangatnya  bangkit untuk berwirausaha dan mencari nafkah lebih giat lagi.

Meski mengalami cacat fisik tak lantas membuat semangat hidupnya menurun. Peserta Program Keluarga Harapan (PKH) kohor 2016 ini masih punya tanggungan keluarga. Suami dari Roheni (35) ini harus menghidupi tiga orang anak.

Kunjungan demi kunjungan kulaksanakan untuk mengedukasi kewirausahaan ekonomi dan memotivasi Atam untuk mengikuti pelatihan keterampilan yang dilaksanakan bersama Dinas Sosial Kabupaten Indramayu. Ia mengikuti pelatihan memotong rambut selama dua hari. Hasil dari pelatihan itu menunjukan semangat Atam untuk mencari tambahan rejeki dengan menyediakan jasa potong rambut.

Sang istri membantu dengan membuka warung kelontong yang menyediakan keperluan sehari-hari. Ia menggunakan penghasilan dari warung untuk kebutuhan sehari-hari. Sementara, uang bantuan sosial PKH untuk membiayai pendidikan dua anaknya di bangku SMP dan SD.

Sebagai seorang pendamping Keluarga Penerima Manfaat (KPM), saya tidak tinggal diam ketika melihat anak penerima bantuan sosial tidak diberdayakan. Mahendra (16), anak sulung Atam ternyata punya permasalahan dengan studinya. Ia mogok tidak mau melanjutkan di SMP. Kewajiban saya sebagai tenaga pendamping untuk bisa mengembalikan ke  komunitasnya. Konseling demi konseling saya lakukan agar Mahendra mau bersekolah lagi. Untunglah anak muda tersebut telah kembali mengikuti sekolah lagi.

Sampai Juni 2019 ketika kuberi wawasan mengenai Graduasi Mandiri bahwa dengan adanya peningkatan usaha ekonomi mereka yang semakin baik, diharapkan sekali untuk mengajukan pernyataan pengunduran dari kepesertaan PKH dan dapat memberi kesempatan kepada yang belum menjadi peserta.

Roheni dan Atam resmi menyatakan kesediaannya dan menandatangani pernyataan dengan alasan ingin mandiri membiayai pendidikan anak-anaknya. Semenjak itu rezeki mereka kerap mengalir hingga kebahagiaan mereka bertambah dengan kehadiran putri ketiga yang selama ini mereka tunggu kehadirannya.

 

Oleh: Heryanto, SP