PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

Inspiratif, Kisah Sukses Graduasi Penerima PKH di Cirebon


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan Cerita

Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon hadir  sejak 2015, wilayah dimana tingkat kemiskinan cukup tinggi.

Sebagian besar kaum ibu, termasuk juga Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH, di wilayah tersebut bekerja sebagai tenaga serabutan di sawah atau mengurus rumah tangga.

Sebagai Pendamping PKH, salah satu tugas saya adalah memotivasi mereka agar mampu dan berdaya secara ekonomi. Kemudian tercetus untuk melahirkan sebuah program pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.

Saya utarakan hal ini kepada ibu-ibu KPM dan kelak koperasi ini dikelola oleh mereka dan untuk mereka. Sedangkan saya turut mendampingi pelaksanaannya.

Koperasi ini dimotori oleh Titin Ratini dan Mimin Sarmini. Keduanya adalah KPM PKH.  Meski berpendidikan rendah, rasa kepercayaan diri tumbuh di benak mereka bahwa dengan mengelola koperasi bersama-sama, kelak mereka akan sejahtera bersama pula.

Seiring waktu berjalan dan mereka berproses bersama, para KPM PKH ini mampu memobilisasi rekan-rekannya untuk bergabung membentuk koperasi. Pada 2016 atas dasar kesadaran sendiri, para KPM bersama para ketua kelompok menggagas dibentuknya sebuah Koperasi Pemasaran Keluarga Harapan Prima sebagai sarana kegiatan ekonomi rakyat.

Pada awal pembentukannya mereka membuka dua Unit Usaha Ekonomi Simpan Pinjam dan Unit Usaha Perdagangan Sembako dan berkembang dengan menjual aneka sembako bagi para anggota dan non anggota koperasi.

Mimin dan Titin bersama Pendamping PKH terus menggelorakan pentingnya berkoperasi sebagai  usaha bersama. Dengan memiliki kekuatan ekonomi melalui koperasi, perlahan akan melepaskan ketergantuan kepada bantuan sosial.

Pada kepengurusan pertama, para KPM menunjuk Mimin untuk menjalankan roda organisasi koperasi. Mimin dibantu Ela Nurlaela selaku bendahara, Titin sebagai sekretaris, dan Acih Sukarsih sebagai Pengawas.

Melalui perjalanan yang panjang dan berliku, seperti pepatah Jawa alon-alon asal kelakon atau perlahan namun pasti, koperasi berjalan dengan modal awal dari sumbangan 20 orang KPM. Saat itu dana terhimpun sebesar Rp2 juta.  Atas kesepakatan bersama para pendiri koperasi dan pengurus menempuh proses legalisasi dengan Akta Pendirian Koperasi Pemasaran Keluarga Harapan Prima pada 2017.

 

Pada 2018, dari modal awal telah bertambah menjadi sekitar Rp100 juta. Jumlah anggota koperasi juga terus bertambah hingga mencapai 100 orang.

Usaha KPM melalui koperasi semakin berkembang dengan menjual kebutuhan pokok kepada para anggota. Saya mencoba menghubungkan KPM melalui koperasi dengan Bank BNI membentuk keagenan BNI 46 untuk mempermudah transaksi jual beli dan transaksi keuangan.

Pada 2018 Pertemuan Kelompok yang kami lakukan secara rutin berubah menjadi Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga yang dikenal dengan P2K2. Salah satu yang saya paparkan kepada ibu-ibu adalah Modul Ekonomi.

Konsep Pemberdayaan Ekonomi KPM di dalamnya cocok sekali dengan pemberdayaan yang sedang saya lakukan terhadap KPM melalui Koperasi. Dengan harapan KPM dapat mengelola keuangan melalui koperasi, kegiatan meminjam dan menabung melalui koperasi, dan kegiatan membuka usaha bersama melalui koperasi.

Usaha koperasi milik KPM pun semakin berkembang dengan bertambahnya permodalan mencapai sekitar Rp300 juta yang kemudian digulirkan untuk jual beli sembako yang digulirkan kepada KPM  sebagai anggota koperasi.

 

P2K2 Membawa Berkah Untuk Koperasi

Para KPM sudah mulai aktif berkegiatan ekonomi dan beroganisasi koperasi. Mereka mulai membuka diri dengan dunia luar. Saya mendorong mereka untuk mulai mengikuti bazaar, pameran, pelatihan, dan seminar.

Bahkan pada satu waktu, mereka mampu mengundang Kementerian Koperasi dan UKM untuk memberikan pelatihan khusus untuk para KPM agar mampu berkoperasi.

Pada 2019, saya melihat koperasi semakin maju dan para pengurus sudah mulai berdaya secara ekonomi. Kegiatan P2K2 kemudian menjadi jalan saya untuk mendorong KPM graduasi mandiri.

Ada dua hal penting agar KPM bisa melakukan Graduasi Mandiri, yaitu mempunyai kemampuan secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mempunyai kesadaran dan perubahan sikap untuk mandiri tidak menerima lagi bantuan dari PKH.

Saya mendesain dan intervensi dari menggalang dukungan berbagai pihak terutama dari Pendamping Sosial yang disupervisi oleh Pendamping Sosial Tugas Khusus dan dukungan dari Koordinator Kabupaten.

Peranan Supervisor sangat membantu dalam memberikan rambu-rambu untuk Graduasi Mandiri. KPM memerlukan bimbingan dan motivasi, informasi peluang usaha, serta jejaring ke lembaga usaha sebagai upaya untuk meningkatkan penghasilan keluarganya.  Disinilah diperlukan sinergi antara Pendamping Sosial, Supervisor, Koordinator Kabupaten dan para pihak terkait agar berjalannya proses Graduasi Mandiri berjalan sesuai yang diharapkan bersama.

Adapun tahapan Graduasi yang saya lakukan, mulai dari menginventarisir KPM yang sudah mulai mandiri secara ekonomi. Dalam pendataan ini saya dibantu Ketua Kelompok dan menerima masukan masyarakat.

Selanjutnya saya melakukan survei lapangan untuk menggali informasi dari masyarakat di sekitar KPM yang akan graduasi. Dilanjutkan wawancara RT, RW, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda dan para tetangga. Melakukan kunjungan ke rumah Calon KPM Graduasi dan mencocokkan denga data-data yang diperoleh di lapangan.

Setelah mendapat nama-nama yang potensia untuk graduasi mandiri, saya sampaikan berkoordinasi dengan Kepala Desa dan meminta dukungannya agar berjalan lancar, aman, tertib dan tanpa masalah. Saya juga melibatkan atau konsultasi dengan  Supervisor dan Koordinator Kabupaten dalam setiap akan melakukan ekseskusi Graduasi Mandiri.

Akhirnya pada 2019, sebanyak 55 KPM yang menjadi anggota Koperasi dengan kesadaran sendiri menyatakan bersedia untuk mengundurkan diri.

Selanjutnya pada 2020 atas dukungan penuh Supervisor, sebanyak 83 orang anggota koperasi mengajukan graduasi mandiri.

Setelah graduasi, ibu-ibu mantan KPM PKH mampu menjalankan usaha bersama melalui Koperasi Keluarga Harapan Prima Kecamatan Beber Kabupaten Cirebon.

 

Oleh: M. Sonny Lesmana