PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

Sentuh Hati KPM Agar Graduasi Mandiri


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan testimoni

Saya menjadi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) sejak tahun 2008. Salah satu desa binaan saya adalah Desa Kertanegara Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu.

Menjadi seorang pendamping PKH adalah sebuah tantangan sekaligus kesenangan bagi saya. Jarak tempuh yang lama serta medan yang berat tidak menjadi halangan untuk bertemu dengan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) binaan.

Sebagai Pendamping PKH saya selalu memotivasi mereka agar kelak dapat ‘lulus’ dari predikat prasejahtera. Bagaimana caranya? Saya mendorong mereka untuk merintis usaha bersama.

Jadi dalam pendampingan KPM PKH, seorang Pendamping PKH tidak hanya memotivasi, tetapi juga mengarahkan dan membantu mereka menemukan usaha yang tepat dan mudah mereka diterapkan.

Setelah melalui proses pengamatan di lingkungan desa binaan, saya berinisiatif untuk melakukan pertemuan dengan para ketua kelompok KPM binaan saya guna membahas mengenai pembentukan cikal bakal KUBE pada tahun 2017. Hasilnya, mereka semua setuju.  Pertemuan dilanjutkan dengan pertemuan kelompok yang dihadiri oleh semua anggota PKH periode 2008-2016. Setelah mendapat penjelasan dan pengarahan, ibu-ibu KPM bersepakat mendukung pendirian KUBE yang kemudian diberi nama KUBE PKH Mandiri.  Kelompok Usaha Bersama  ini dijalankan oleh pengurus dan dibandiboleh semua ketua kelompok.

Pada awal berdirinya, KUBE bekerja sama dengan suplier air isi ulang dan bertindak sebagai marketing produk suplier tersebut. Mereka mendapatkan fee Rp 1500 per galon dari pihak suplier.

Kemudian, KUBE juga akan memberikan komisi kepada anggota yang memasarkan air kemasan isi ulang sebesar Rp500. Komisi sebesar Rp500 per galon ini juga akan diberikan kepada anggota yang membeli airnya. Namun, komisi ini akan masuk ke kas KUBE yang dibagikan sebulan sekali.

Alhamdulilah usaha ini berjalan lancar selama beberapa tahun sehingga dapat membeli 1 unit kendaraan angkut barang roda tiga dan 200 galon kemasan air isi ulang. Tetapi, sayangnya karena sumber air isi ulang kualitasnya kurang bagus serta rasa airnya kurang enak dikonsumsi, maka lama kelamaan air isi ulang  ini tidak laku. Terpaksa, akhirnya KUBE menghentikan kerja sama dengan pihak suplier.

Melihat hal ini, saya kemudian memberikan masukan kepada para pengurus KUBE untuk menyewakan kendaraan roda 3 kepada anggota KUBE atau masyarakat non anggota. Alasannya, karena ada beberapa KPM PKH yang memiliki usaha material dan pembuatan kusen pintu, meja dan kursi. Hingga kini usaha persewaan grandong sudah berjalan hampir setahun dengan hasil yang lumayan besar.

 

Graduasi Mandiri

Untuk menilai siapa KPM yang bisa mundur dari kepesertaan PKH secara sukarela, sebagai Pendamping saya melibatkan beberapa pihak. Salah satunya adalah guru – guru di sekolah anak KPM.

Saya meminta masukan dan saran karena mereka mengetahui keadaan ekonomi para orang tua murid penerima Bansos PKH. Masukan-masukan dari mereka saya gunakan sebagai catatan sasaran Graduasi Mandiri.

Langkah berikutnya melakukan kunjungan kepada para KPM yang telah masuk data saya secara kontinyu. Tujuannya adalah mempersuasi mereka supaya mengundurkan diri dari Kepesertaan PKH secara sukarela.

Salah satu contoh kisah sukses KPM binaan saya yang berhasil graduasi mandiri adalah Ibu Resmi. Dia adalah KPM Bansos PKH dari Desa Kertanegara, Kabupaten Indramayu.

Sebelum resmi menjadi KPM PKH pada tahun 2016 silam, ibu satu anak ini berjualan pecel keliling. Sementara itu, suaminya bekerja sebagai buruh tani. Dia menjadi salah satu KPM PKH karena memiliki tanggungan anak usia sekolah serta orangtuanya yang telah lanjut usia.

Uang yang diperolehnya setiap bulan dimanfaatkan untuk membeli seragam sekolah, uang jajan anaknya di sekolah serta membeli obat dan makanan bergizi untuk orangtuanya. Agar memiliki wawasan kewirausahaan, saya selalu mengajak Ibu Resmi untuk mengikuti pertemuan kelompok P2K2. Diapun selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Pertemuan P2K2 ini sendiri merupakan sarana untuk menambah wawasan serta menjalin silaturahmi antar KPM PKH sehingga mereka dapat saling tukar pikiran atau pengalaman masing-masing.

Dari uang bansos yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit, dia gunakan untuk membuka warung kelontong. Hasilnya pun dapat dimanfaatkan oleh suaminya untuk menyewa sawah sendiri berukuran 1,5 hektare. Lambat laun sedikit demi sedikit kondisi ekonomi Ibu Resmi membaik. Per bulan pendapatan keluarganya berkisar minimal Rp4,5 juta. Dengan kondisi yang sudah makin baik secara ekonomi, saya mendorong Bu Resmi untuk graduasi mandiri.

Pada awal tahun 2020, wanita berambut keriting ini resmi mengundurkan diri dari kepesertaan PKH.

 

Oleh: Asmuni

Pendamping PKH Kec. Hargeulis, Kab. Indramayu