Program Keluarga Harapan | Testimonial | Program Keluarga Harapan

Testimonial

Bahasa |  English  

Aku ingin menjadi tukang pijat tunanetra

Jika anda berkunjung ke daerah Karang asem, dan melewati jalan paliyan giring, maka anda akan menemui plakat PIJAT TUNA NETRA MIYANTO... plakat ini di buat dengan tulisan tangan, warna merah dengan latar putih.

Ya Minyato Muyasaroh adalah salah satu anak peserta PKH yang membuat saya sangat berkesan, tinggal di rumah ukuran 6 x 5 meter dengan dinding gedek ( ayaman bambu) yang di buatkan oleh warga sekitar, tinggal dengan neneknya yang sudah tua.. hal itu semua yang membuat dia masuk dalam kategori peserta program keluarga harapan.

Miyanto kecil adalah anak normal sampai pada saat SD kelas 4 penyakit turunan yang di didapat dari ayahnya membuat dia menjadi tidak bisa melihat...diapun harus berhenti dari sekolah dan berteman dengan tongkat jika harus bejalan kemana -mana.

Pertama kali aku melihat di data bahwa Minyanto ini adalah penyandang cacat tuna netra dan terpikir olehku karena dulu di tempat ini jauh dari SLB maka dia tentu tidak sekolah.

Aku mendatangi pesertaku ini setelah pertemuan awal karena aku yakin bahwa Miyanto tidak sekolah dan karena neneknya sanggup menandatangain form pada pertemuan awal dan ada kesanggupan dari neneknya akan menyekolahkan Miyanto, juga karena letak SLB jauh maka tentunya Miyanto memerlukan bantuan untuk pergi ke SLB. Sampai dirumah tersebut aku disambut dengan gembira oleh nenek dari Miyanto ini dan juga tentunya oleh Miyanto.

Kami mengobrol kesana kemari dan akhirnya aku menayakan apa cita - cita dari Miyanto, MAU menjadi Tukang pijit Tuna netra jawabnya....

Aku mulai berpikir untuk membantu keluarga ini dalam menyekolahkan Miyanto, yakni dengan membawa Miyanto ke SLB agar di sana nanti Dia mendapat pelajaran tentang ketrampilan walaupun bukan pelajaran memijat...

Pada hari lain saya menghubungi SLB di Playen dan mensosialisaikan program PKH di sana, akhirnya SLB ini mau menerima peserta baru dan dengan fasilitas asrama dan fasilitas lainya gratis dengan catatan yang bersangkutan harus dapat mendiri ( dalam artian ketika mandi dan makan bisa melakukanya sendiri) karena keterbatasan personil.

Sayapun berdialog dengan keluarga Miyanto, dan akhirnya keluarga Miyanto membolehkan dia untuk disekolahkan di SLB .

Pada hari yang ditentukan saya bersama Mbak Mulan pendamping PKH yang satu kecamatan denganku kemudian pergi menjemput Miyanto, Saya memboncengkan Miyanto dan Mbak Mulan membawakan bekal Miyanto.

Singkat cerita kami sampai di SLB dan disana Miyanto dipertemukan dengan teman - t emannya. Di luar dugaan saya, ternyata Miyanto ini pandai menyanyi campursari dan Miyanto segera berbaur dengan temanya..

Selang beberapa bulan karena Di SLB playen ini dia tidak mendapatkan pelajaran tentang memijat dia pulang bersama mobil pengatar dan tidak mau kembali, dan sayapun mendatangi rumahnya sambil memberikan motivasi bahwa setiap keinginan pasti ada jalan dan karena Miyanto ini adalah orang yang sering sholat tahujud sayapun berpesan agar dia selalu menjaga tahajudnya..

Ketika mencari informasi tentang SLB yang ada pelajaran memijatnya, saya terheran karena saya mendengar kabar bahwa Miyanto telah ke SLB di karangmojo, Ngawis berdasarkan informasi dia diantar oleh pak kesra. Singkat cerita sayapun memastikan ke SLB tersebut agar form verifikasi segera dapat dialamatkan ke sana, dan memang betul Miyanto berada di SLb tersebut. Saya sempat bertemu dengan dia dan mengatakan dia kerasan di SLB tersebut..

Selang waktu sekitar sebulan pada waktu pertemuan kelompok, neneknya mengatakan bahwa Miyanto telah berpindah ke SLB di Panggang yang di sana ada pelajaran memijatnya, ..tidak terpikir oleh saya bagaimana seoarang Miyanto dapat pergi ke Pangang sendirian, suatu hari berdasarkan informasi dari neneknya ketika Miyanto pulang saya datang kerumahnya dan menayakan bagimana caranya dia bisa sampai ke Panggang..

Sungguh ALLAH SWT adalah Mahakuasa ternyata dalam perjalanan ke panggang Miyanto selalu di beri kemudahan mulai dari di bonceng orang sampai naik angkot tidak bayar..

Singkat carita akhirnya Miyanto mendapatkan ilmu memijat, saya sempat menjadi salah satu pasien dari 25 pasien yang didaftar dan akan di setorkan ke SLB tersebut sebagi tanda bahwa pernah ada orang yang mengunakan jasanya...

Pada waktu memijat saya, Miyanto menceritakan ilmunya, seolah seorang profesional dia menerangkan kepada saya letak titik - titik saraf, dalam hati saya berkata bahwa memang benar setiap keingingan yang baik pasti ada jalan.

Ini bukan cerita berdasarkan rekayasa pikir akan tetapi kenyataan jika ingin pijat silahkan datang ke Karangasem B, Karang asem, Paliyan, Gunungkidul.


Kantor Pelaksana PKH Pusat

Gedung D Kementerian Sosial RI

Jl. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat

+6221 3103591 (ex.2446)

Fax : +6221-3147474, 3925153

E-mail : pusat@pkh.kemsos.go.id