Program Keluarga Harapan | Testimonial | Program Keluarga Harapan

Testimonial

Bahasa |  English  

NGGAH-NGGIH MBOTEN KEPANGGIH

Ditulis oleh : Theresia Ratnawati

Pendamping PKH Kecamantan Semanu, Gunung Kidul, DI Yogyakarta

 

Pengalaman ini saya dapati ketika menginjak tahun ketiga menjadi pendamping PKH di Kecamatan Semanu tercinta, tepatnya di Wedi Wutah, sebuah kampung yang sudah agak "mengkota", tempat kelahiran saya.

 

Wedi Wutah, sebuah kampung nan indah dengan pemandangan ladang dan beberapa bukit kapur di wilayah selatan Desa Ngeposari. Dengan jumlah penduduk paling banyak di wilayah Desa Ngeposari, yakni 200 KK lebih untuk satu wilayah padukuhan. Santun dan Arif, itu kata pertama yang saya bisa utarakan untuk menggambarkan karakter penduduk padukuhan ini. Tiap kali ada pertemuan rutin atau pertemuan dadakan, semua elemen masyarakat di wilayah ini pasti ikut berkumpul, mulai dari pak dukuh, dan kader yang ada. Sungguh sebuah kebanggaan tersendiri ketika kita di hargai oleh mereka, minimal kita di sapa dan diterima dengan baik di wilayah ini.

 

Dengan jumlah anggota dalam pertemuan kelompok yang relatif banyak yakni 35 KK, maka setiap kali pertemuan rutin wilayah ini pasti akan ramai dan seru. Hampir tak pernah ada yang absen untuk pertemuan kelompok PKH. Pokoknya, partisipasi untuk wilayah ini saya beri nilai 99.

 

Tetapi, pada suatu pagi sekitar jam enaman, saya tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor pos untuk melaksanakan pencairan bantuan PKH. Seorang janda setengah tua yang sedang sakit batuk bertandang ke rumah dengan wajah yang agak aneh. Dengan tenang saya ajak masuk. Saya tanya maksud kedatanggannya, ada apa kok tumben pagi-pagi sudah bertamu. Ibu itu lalu menangis dan berkali kali meminta maaf.

 

“Nyuwun ngapunten mbak, kulo ampun didukani!”. Lah, saya kaget.

“kenapa memangnya, bu?, saya tidak akan marah kok, ibu cerita saja.”

 Dengan sesekali meneteskan air mata, si ibu mengatakan bahwa dia tidak sanggup untuk memelihara kambing (jadi ibu ini peserta KUBE]) karena memang ia sedang repot bekerja di luar kota dan tidak bisa mengurus kambing. Anaknya yang masih duduk di kelas 6 juga tengah belajar mempersiapkan ujian.

 

Lalu dalam hati saya tertawa dan mengatakan kepada si ibu:

walah, bu, kok cuma tidak sanggub jadi peserta KUBE aja kok nangis toh. Tidak apa-apa bu, saya kemarin datang mengecek lokasi ke rumah ibu itu fungsinya untuk memastikan kesiapan calon peserta. Bukan untuk memaksakan jadi peserta KUBE.Sampeyan ampun salah paham (Ibu jangan salah faham, ed). Jadi, jangan sampai nanti para peserta KUBE itu terpaksa menjadi anggota, kami benar-benar akan menyaring dan menyeleksi siapa saja peserta yang benar-benar layak dan mampu untuk menjadi peserta KUBE”.

Namun belum selesai sampai di situ, si ibu kembali meminta maaf berkali kali sambil bilang:

“Saya jangan dimarahi ya, mbak, saya mau bilang....”

Saya semakin penasaran, apa lagi ini ibu, kok  sepertinya ketakutan. Lalu si ibu menceritakan bahwa selama 3 tahun ini dia dan teman-teman dikoordinir oleh ibu ketua kelompok PKH untuk menyisihkan uang 10-15 ribu per orang setiap kali pencairan untuk diberikan kepada kader dan pak dukuh. 

 

Ups…. Hati saya langsung linglung dan sedikit tidak percaya sekaligus kecewa. Mengapa wilayah yang selama ini kooperatif dan sangat baik mentaati peraturan di mata saya, kok di belakang seperti ini.  Lalu si ibu kembali menyadarkan saya dengan permintaan maafnya yang berkali kali…

 

saya akhirnya mengatakan kepada si ibu bahwa saya mengucapkan terimakasih atas keberanian si ibu telah melaporkan ke pendamping tetang pemotongan yang sudah lama dilakukan.

 

Si ibu mengatakan:

“Saya bukannya tidak mau memberi uang ke pak dukuh dan kader, mbak. Tapi saya ingat kata-kata mbak Ratna tiap kali pertemuan rutin. kan mbak Ratna bilang, sepeser pun kita tidak boleh memberikan uang PKH kepada siapapun dalam bentuk apapun.

 

Tapi selama ini saya takut kepada teman – teman dan pak dukuh, mbak. Saya minta

maaf. Saya melakukan ini karena saya sudah dimarahi oleh teman-teman karena tidak mau memelihara kambing KUBE. Saya bukannya tak mau memelihara, mbak. Tapi, saya benar-benar repot dan tak sanggub pelihara.”

“Ya sudah,  ibu tenang dulu… “

Lalu saya ambilkan air putih ke belakang supaya si ibu tenang. Setelah situasi ibu janda itu tenang, saya kembali menanyai.

lha, kenapa ibu, kok selama ini njenengan dan teman-teman mau memberikan uang potongan itu, bukannya kita sudah janji tiap kali di pertemuan untuk tidak melanggar aturan?.”

 

Si ibu hanya menjawab:

“Saya tidak tahu, mbak. Itu inisiatif teman-teman. Saya hanya ikut-ikutan saja. Mbak jangan bilang jika saya yang melapor ya mbak..”

Setelah si ibu mengutarakan semua informasi. Akhirnya si ibu saya suruh pulang karena saya akan segera pergi untuk melakukan pencairan ke kantor pos. Saya sungguh masih diliputi perasaan kecewa sekaligus tak percaya. Kenapa wilayah yang selama ini baik di mata saya  ternyata di belakanya seperti ini.

 

Saya berusaha menenangkan emosi demi untuk kelancaran pembayaran. Pencairan kali ini agak tegang karena saya tidak bisa menyembunyikan wajah kecewa di depan peserta PKH.

 

Di awal acara pecairan, saya dengan wajah serius kembali mengingatkan dan memberikan gambaran tentang konsekuensi tercabut dari kepesertaan PKH jika RTSM masih nekat melakukan pemotongan. Dengan sedikit berimprovisasi, saya berpura-pura sudah mengetahui semua kasus pemotongan di Ngeporasi dan sudah mengantongi nama-nama inisiatornya. Saya sengaja berbohong di depan mereka. Seolah-olah saya sudah mengetahui wilayah mana saja yang melakukan pemotongan, padahal saya belum tahu.

 

Saya yakin, mereka akan takut dan akan segera mendatangi saya setelah saya beri gambaran dampak hukum dari kasus pemotongan. Saya hanya menghendaki kejujuran mereka dan berani mengakui perbuatannya dan mendatangi saya untuk menjelaskan permasalahan yang ada.

 

Dan, tepat sekali. Sebelum pencairan beberapa ketua PKH yang saya tunggu akhirnya mendatangi saya dan mengakui dengan jujur bahwa mereka melakukan perbuatan itu. Tidak semua wilayah memang melakukan pemotongan, namun hampir separuh dari mereka. Alasan mereka melakukan adalah mereka merasa tidak enak dan ingin mengucapkan terima kasih untuk pak dukuh dan para kader yang telah membantu mereka. RTSM juga sering mendapat sindiran dari mereka di masyarakat.

 

Melihat situasi semacam ini, saya mendiskusikan dengan teman pendamping satu tim untuk tindak lanjut terhadap mereka yang melakukan pemotongan. Akhirnya, untuk tindakan pertama saya meminta mereka menandatangani sebuah surat pernyataan yang berbunyi bahwa mereka bersedia untuk tidak melakukan pemotongan PKH yang diberikan kepada siapapun dalam bentuk apapun kecuali uang kas kecil yang jumlahnya 1 ribu tiap bulan untuk kas kelompok. Jika ternyata mereka ketahuan mengulangi tindakan pemotongan lagi, maka mereka harus bersedia dikeluarkan dari kepesertaan PKH dan tindakah hukum akan dilakukan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Surat tersebut ditandatangani di atas materai dengan harapan ini akan membuat efek jera kepada mereka.

 

Dari pengalaman tersebut, saya akhirnya sedikit belajar, bahwa ternyata baik di muka itu belum tentu jaminan bahwa sebuah program berjalan sesuai rencana. Perlu kontrol dan manajemen konflik tertentu untuk mengetahui sistem secara utuh agar program terlaksana dengan baik. Mengenai budaya pemberian ucapan terimakasih yang saat ini mengarah ke kolusi dan korupsi mini, saya berharap sebagai orang Jawa bisa menempatkan di mana dan kapan selayaknya saya harus mengucapkan terimakasih kepada seseorang atau sebuah instansi.

 

1.  “Maaf, sekali lagi maaf mbak, saya jangan dimarahi!”

2. Singkatan dari Kelompok Usaha Bersama. Ini merupakan program pemberdayaan masyarakan yang juga dikelola oleh Kementerian Sosial.

 


Kantor Pelaksana PKH Pusat

Gedung D Kementerian Sosial RI

Jl. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat

+6221 3103591 (ex.2446)

Fax : +6221-3147474, 3925153

E-mail : pusat@pkh.kemsos.go.id