Program Keluarga Harapan | Testimonial | Program Keluarga Harapan

Testimonial

Bahasa |  English  

DALAM BINAR HARAPAN

dalam binar harapan.jpg

 

Satria Pristiancedilahirkan pada tanggal 14 Januari 1985 di Bengkulu dari pasangan Bapak Abd. Lazi dan Ibu Hartatina. Ia menempuh pendidikan S1 di Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Bengkulu.

Semasa duduk di bangku sekolah, Ance, begitu ia kerap disapa, seringkali memenangkan lomba dalam membaca cerpen dan puisi untuk tingkat SD, SMP dan SMA. Merupakan kebanggaan tersendiri baginya bila dapat mengharumkan nama sekolah dan orang tua.

Menjadi pendamping PKH saat ini merupakan pengalaman hidup yang sangat berkesan. Menurutnya, menjadi Pendamping PKH adalah tugas besar yang membutuhkan perjuangan, tekad dan kesungguhan dalam membangun mentalitas bangsa agar lebih maju ke depannya.


Namaku Satria. Aku satu-satunya pendamping PKH di kecamatan Putri hijau yang lokasinya paling ujung di Kabupaten Bengkulu Utara. Banyak kisah yang kualami selama hampir 3 tahun aku bekerja sebagai pendamping di sini. Terkadang senang, terlebih saat menemani para RTSM ku mengambil uang bantuan PKH. Hemm.. meskipun tak seberapa jumlahnya, ada binar bahagia di mata mereka yang menggambarkan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap mereka yang berada nun jauh di sini.

 

Kondisi lokasi begitu sulit dijangkau. Untuk menuju ke kantor POS terdekat pun mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Kalau sedang mujur, mereka bisa menumpang kendaraan yang kebetulan masuk ke desa mereka. Kondisi jalan yang rusak parah tak jarang pula ada RTSM ku yang terjatuh dari motor. Itu pula yang terkadang membuat aku harus memaksa airmataku untuk tidak jatuh saat melihat mereka mengantri mengambil bantuan.

 

Dari sekian banyak pengalaman selama aku bekerja sebagai pendamping PKH di sini, yang menarik adalah satu insiden pada waktu proses pencairan dana PKH berlangsung. Saat itu, seperti biasa, aku ikut menemani RTSM mengambil uang bantuan dan mengecek kartu serta tanda pengenal mereka agar tidak terjadi kesalahan nama ibu penerima. Satu persatu mereka mengantri, sambil diselingi senda gurau kami yang membuat suasana riuh dengan rasa bahagia. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang saat insiden itu terjadi. Salah seorang RTSM yang baru saja pulang dari POS dikabarkan mengalami kecelakaan saat pulang ke rumah. Beberapa warga yang kebetulan ke kantor POS mengatakan bahwa kondisinya sangat parah. Benar-benar dilema. Ingin rasanya aku menuju Puskesmas tempat RTSM itu dirawat. Tapi, di sisi lain aku harus menyelesaikan tugasku karena masih ada RTSM yang mengantri untuk mengambil bantuan.

 

Pukul 13.00 proses pencairan dana PKH selesai sudah. Bergegas aku menuju puskesmas tempat RTSM itu dirawat. Kondisi ibu itu benar-benar mengkhawatirkan. Lebam di bagian mata dan luka di sekujur tubuhnya membuat sang ibu tak sadarkan diri. Aku mencari keluarganya dan menanyakan kartu PKH dan tanda pengenal untuk mengurus ke bagian administrasi.

 

Sangat mengecewakan. Pihak Puskesmas menolak untuk menggunakan kartu itu untuk pengobatan. Aku segera menemui kepala Puskesmas dan menjelaskan mengenai penggunaan kartu PKH yang sama halnya dengan kartu Jamkesmas. Alhamdulillah, akhirnya mereka mengerti dan biaya pengobatan selama di sana bisa gratis. Setelah semuanya ku anggap selesai, aku pun pulang tanpa lupa memberikan nomor handphone-ku kepada pak dokter untuk jaga-jaga kalau kondisi pasien semakin parah.

 

Tak lama setiba aku di rumah, aku dihubungi pihak Puskesmas dan aku diminta datang segera ke Puskesmas karena si ibu muntah darah dan harus segera dirujuk ke RS. Sementara pihak Puskesmas membuat surat rujukan, aku memberitahu pada pihak keluarga untuk bersiap-siap. Namun, sungguh miris, sang anak RTSM ini memohon kepadaku agar ibunya tidak dibawa ke RS, dengan alasan sama sekali tidak punya uang untuk transport. Uang PKH yang baru saja diterima sebesar 250.000 rupiah telah hilang saat insiden kecelakaan tadi. Mungkin terjatuh, katanya. Untungnya, setelah bernegosiasi dengan dokter, dia mau menanggung seluruh biaya transport pasien ke RS.

 

Keesokan harinya, aku menghubungi pihak keluarga untuk menanyakan kodisi sang ibu sekaligus menanyakan apakah ada kendala di bagian administrasinya. Hal serupa terjadi kembali. Pihak Rumah Sakit sama sekali tidak mengerti akan program PKH. Sangat kecewa aku waktu itu. Segera aku berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk segera membantu proses administrasi. Setelah melalui beberapa tahap yang sedikit menguras emosi, akhirnya pihak RS pun menerima rujukan itu. Si ibu pun bisa ditangani dengan baik dan tanpa biaya pengobatan sepeser pun.

 

Alhamdulillah, sungguh di balik kesulitan selalu ada kemudahan..

Beberapa hari kemudian, anak ibu RTSM itu menemuiku, mengucapkan terima kasih atas bantuan dalam meringankan beban biaya pengobatan sang ibu. Aku terharu. Andai saja semua Rakyat Indonesia bisa mendapatkan pengobatan gratis tanpa harus melalui proses yang rumit, alangkah bahagianya mereka yang notabene kurang mampu itu. Andai saja seluruh Rakyat Indonesia bisa mendapatkan penghidupan yang layak dan merata..! Rakyat berharap bahwa kemerdekaan itu benar-benar adalah hak segala bangsa, merdeka dengan keadilan tanpa harus memandang sebelah mata untuk yang tidak mampu dan dianggap rendah. Semoga dan semoga saja itu semua bisa terwujud dengan berjalannya waktu.

 

Untukmu sahabat-sahabat pendamping PKH dimana pun kalian berada, teruslah berjuang, mengemban amanah bangsa untuk meraih kehidupan yang sejahtera, membangun impian kita bersama. PKH mewujudkan harapan bahwa Indonesia adalah Negara yang memiliki rakyat yang berpendidikan yang sehat jasmani dan rohaninya. Salam PKH.


Kantor Pelaksana PKH Pusat

Gedung D Kementerian Sosial RI

Jl. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat

+6221 3103591 (ex.2446)

Fax : +6221-3147474, 3925153

E-mail : pusat@pkh.kemsos.go.id