Program Keluarga Harapan | Testimonial | Program Keluarga Harapan

Testimonial

Bahasa |  English  

"Bu saya senang tp sedih"

Bu saya senang tapi juga sedih......

 

Testimoni ini ditulis oleh Atun Martuti, pendamping PKH Kecamatan Kokap Kulon Progo

Hargomulyo, 28 Agustus 2012.

 

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur lebaran. Kuniatkan untuk mengunjungi SD Muh Tlogolelo untuk mendapat kepastian status 2 (dua) siswa kakak beradik yang kabarnya DO karena selain ABK juga kerap sekali bolos sekolah. Sebelum ke sekolah kusempatkan mampir ke rumah dua siswa kakak beradik yang kebetulan rumahnya hanya beberapa meter dari sekolah, tapi ternyata kosong, pintu rapat tergembok. Perjalanan kulanjutkan ke sekolah. Singkat cerita, sepulang dari sekolah kusempatkan mampir ke rumah bu Je, ketua kelompok yang kerap berkomunikasi denganku perihal kedua anak DO tadi lantaran kedua orang tuanya sulit diajak berkomunikasi.

 

Sampai rumah bu Je belum pulang, baru menjemput anak bungsunya di Taman Kanak-Kanak. Kebetulan yang ada di rumah adalah dik Fajar Uswatun Khasanah, dik Ana begitu aku biasa memanggilnya, anak sulung Bu Je. Kebetulan sekali, mungkin ini kali pertama aku bertemu dengannya semenjak dik Ana kuliah, padahal sekarang sudah masuk semester 5, berarti sekitar 2 tahun.

 

Pertemuan dengan dik Ana mengingatkanku pada saat awal masa program PKH berjalan. Sebagai ketua kelompok tentu komunikasiku dengan bu Je, orang tua dik Ana lebih intensif ketimbang peserta PKH yang lain. Suatu ketika aku datang ke rumah, bu Je bercerita tentang anak-anaknya.

 

‘’Bu, kata orang-orang anak-anak saya pintar-pintar. Saya tentu saja senang dan bangga, tapi saya juga sekaligus sedih.”

“Lho sedihnya kenapa? ” tanyaku.

”Iya, justru karena prestasinya di sekolah bagus, anak saya banyak dikenal oleh guru-gurunya. Pergaulan dengan teman-teman yang prestasi membuatnya terdorong untuk ingin selalu belajar. Itu bagus menurut saya, tetapi ya kalau dia kemudian ingin sekali kuliah saya yang repot bu, bagaimana biayanya? Untuk makan sehari-hari dan sekolah selama ini saja sudah kerepotan kok mau kuliah.’

Ups, betul juga ya…..Wah, ini perlu penyikapan yang bijak dan butuh lompatan tindakan untuk menghadapi kasus ini.

 

‘Ah, jalani saja dulu, yang penting prestasinya tetap bagus. Kalau niat baik, Tuhan pasti memberi jalan. Nanti saya bantu cari informasi Bu, jawabku masih setengah hati karena sama sekali tak punya gambaran harus bagaimana.

 

Itulah sekelumit dialogku dengan Bu Je beberapa tahun silam. Selain berusaha mencari informasi aku juga menyarankan pada bu Je agar anak sulungnya yang waktu itu kelas XI SMA agar rajin mencari informasi baik lewat internet, teman ataupun gurunya.

 

Seiring berjalannya waktu tak terasa tibalah di pertengahan tahun 2010 saat anak Bu Je lulus SMA. Bu Je bercerita bahwa anaknya diusulkan penelusuran bibit unggul perguruan tinggi negeri oleh sekolahnya, ambil pilihan pertama, kedokteran umum. Weits, kaget…kedokteran umum? Ya mungkin kalau beasiswa pendidikan dapat, lha biaya hidup (karena mau tak mau harus indekos, mengingat domisili jauh dari kampus), juga biaya buku dll, di kedokteran kan muahal…..

 

Waktu masih bekerja di penerbit dan distributor buku aku sering melihat buku-buku kedokteran yang harganya selangit, ada yang mencapai jutaan? Waduh, harapan tentu saja ingin diterima, tapi kalau kedokteran perlu langkah ni untuk menyambung biaya lain-lain itu.

 

Cari info sana-sini, kebetulan waktu itu aku mendapat informasi, tepatnya lupa, kalau tidak dari sms teman ya dari koran. Ada informasi beasiswa di perguruan tinggi yang juga sekaligus biaya hidup dan lain-lain. Nah ini suatu alternatif. Kuinformasikan hal ini pada anak Bu Je, yah sebagai alternative pilihan, biarlah Tuhan yang mengarahkan, jalan mana yang harus ditempuh.

 

Singkat cerita akhirnya dik Ana pun mendaftar via online beasiswa yang kuberitahukan tadi dan lolos seleksi awal, tinggal menunggu waktu mengambil nomor tes dan mengikuti tesnya. Waktu itu dik Ana sempat ragu juga karena pihak sekolah sempat memberi warning agar jika diterima di perguruan tinggi atas usul sekolah jangan sampai dilepas, karena tentu menyangkut kredibilitas sekolah untuk usulan tahun berikutnya, Masuk akal…Kutenangkan dia, santai saja, berdoa, biarlah Tuhan yang mengarahkan jalan mana yang harus ditempuh. Kebetulan sekali pengumuman hasil seleksi bersamaan dengan hari tes untuk beasiswa. Mati-matian dik Ana dengan ditemani bapaknya jam 00.00 tanggal dan hari itu ke warnet untuk mendownload hasil seleksi, maksudnya jika lolos tentu dia tak perlu dating mengikuti tes beasiswa satunya lagi, biarlah itu menjadi kesempatan bagi orang lain, tidak perlu serakah. Alhamdulillah puji syukur, lolos seleksi, diterima. Kedokteran Umum di UGM, wow…

 

anak peserta PKH? Coba bayangkan, fantastic bukan? Bahkan pendamping PKH mana di Indonesia ini kalau dilakukan survey, ada berapa prosen yang anaknya bisa diterima tanpa tes di PTN favorit, Kedokteran Umum pula?

 

Dan, ini bukanlah akhir perjuangan bagi dik Anak dan keluarganya, barulah awal. Bagaimana mencukupi biaya lain-lain laiknya orang kuliah kebanyakan? Biaya hidup, makan, kos, buku, laptop? Tapi setiap ada niat dan kesungguhan, Tuhan selalu memberi jalan.

 

Dik Ana mengikuti seleksi program Beastudi ETOS, pembinan pendidikan bagi anak-anak kurang mampu dari Dompet Dhuafa dan lolos. Selain itu dia juga rajin mencari tambahan sana-sini, mulai dari memberi privat, bahkan proyek atau program apa saja yang bisa menghasikan uang dia ikuti.

 

Itulah sekelumit perjuangan anak peserta PKH untuk bisa kuliah. Seperti mimpi bukan? Dari ayah yang bekerja buruh serabutan, yang tidak pernah absent jika musim panen tiba bekerja memanen padi orang lain agar bisa mengumpulkan padi sebanyak-banyaknya hingga anak dan istri bisa makan tanpa perlu membeli beras, syukur jika sisa dan sempat menjual untuk kebutuhan sehari-hari. Dari ibu yang membantu nafkah suami dengan membuat makanan pokok pengganti nasi khas Kulon Progo, yakni growol (terbuat dari singkong yang difermentasi basah selama beberapa hari kemudian dicacah dan dikukus). Berdasar pengakuan Bu Je, dari 1 kuintal singkong paling mendapat untung 15 ribu, itupun proses pembuatannya memakan waktu beberapa hari. Yah biar untung sedikit setidaknya bisa untuk membantu transport anak ke sekolah katanya.

 

Meskipun berat menghidupi 5 orang anak Keluarga ini memang sering membuat iri tetangga karena prestasi anak-anaknya. Si sulung semester 5 di Kedokteran Umum, anak kedua di SMA negeri favorit kelas XI, anak ketiga dan keempat di sekolah Dasar dan si bungsu masih di Taman Kanak-Kanak. Kelima anak ini selain prestasi akademiknya bagus juga sarat prestasi di bidang lain, berbagai lomba mereka ikuti, berderet piala dan piagam di rumah mungil itu. Mulai lomba baca puisi, menggambar, mewarnai, baca al-Quran, cerdas cermat dll. Selain bangga dengan prestasi itu, jika juara dalam perlombaan biasanya mendapatkan uang pembinaan, itulah yang bisa membantu mereka memenuhi kebutuhan sekolah.

 

Yuk kita rame-rame meneladani keluarga bu Je yang inspiratif ini, tentu bukan meniru anaknya yang banyak (Bu Je beberapa kali gagal mengikuti program keluarga berencana lantaran sering tidak cocok dan mengganggu kesehatannya, sering pingsan katanya), tapi perjuangan dan prestasinya yang luar biasa. Dan buat yang berkecukupan, ayo siapa yang tertarik menjadi orang tua asuh? Terutama untuk anak kedua yang tahun 2014 lulus SMA dan ingin kuliah?

 

Kelima anak Bu Je tentu tidak ingin senasib dengan kedua orang tuanya, seolah mereka paham betul slogan PKH, ‘Anak Saya Tidak Boleh Miskin’….Ya. Memang pendidikan itu penting, bukan semata sebagai bekal penghidupan dalam arti mencari pekerjaan jika dewasa kelak. Namun belajar adalah wujud syukur atas karunia Tuhan yang telah menganugerahkan fisik dan mental yang sehat sehingga kita bisa berpikir.

 

Kalau kemudian dari proses belajar itu mendapatkan hasil berupa bekal penghidupan dunia dan akhirat yang lebih baik tentu itu hal yang perlu lebih disyukuri lagi. Jika kita meniatkan belajar hanya sebagai bekal mencari pekerjaan, kita bisa stress jika harapan tidak sesuai kenyataan. Namun jika meniatkan belajar sebagai wujud rasa syukur dan proses kehidupan yang indah untuk dijalani, tentu rasa syukur kita besar, dan bila kita bersyukur atas nikmat Tuhan, maka Tuhan akan menambahkan nikmat yang lebih….amien.

 

bu saya senang.jpg

Foto dik Fajar Uswatun Khasanah.


Kantor Pelaksana PKH Pusat

Gedung D Kementerian Sosial RI

Jl. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat

+6221 3103591 (ex.2446)

Fax : +6221-3147474, 3925153

E-mail : pusat@pkh.kemsos.go.id