Program Keluarga Harapan | Testimonial | Program Keluarga Harapan

Testimonial

Bahasa |  English  

PKH MERGANGSAN MY SPIRIT

Perkenalkan namaku Elisabeth Paramita pendamping PKH kecamatan Mergangsan. Disini aku mengampu 116 peserta PKH di 3 Kelurahan, ya memang terhitung sedikit sih daripada Kabupaten yang lainnya tetapi dashyat-dashyat orangnya. Contoh salah satunya adalah waktu validasi di awal PKH mencari calon peserta PKH yang berkunjung ke rumah-rumah, ternyata saat malam, hujan melanda dan aku berkunjung ke salah satu calon peserta PKH untuk memberikan surat validasi, dan disitu pula aku yang dimarahi, katanya begini “mbak nak teko kuwi esuk-esuk wae mbak, saiki wayahe wong do turu”, dengan sabar aku menjawab“nggeh nyuwun pangapunten bu, ini saya dari Dinas dan ibu adalah salah satu calon peserta PKH yaitu Program Keluarga Harapan. Ibu ada anak balita, SD atau SMP?”


dan katanya begini lagi “arep nggo opo e mbak?” dengan lebih sabar aku menjawab “itu untuk mendapatkan bantuan bu,bsk ibu membawa surat keterangan dari sekolah yang menyatakan anak ibu masih sekolah di situ dan apabila ada yang hamil atau balita, ibu bawa surat keterangan dari puskesmas atau memperlihatkan kartu kendali dari posyandu”. Kata si Ibu: nggeh siap, mbak sudah malam mbak kula ngantuk” kataku: ooooo nggeh, kula njih ajeng pamit. Suwun nggeh bu”. Haduh capek deh. Saat hujan-hujan kena usir lagi. Hahahahaha.....Ya itu salah satu cerita yang menggelitik dalam hidupku saat pertama kali bekerja di PKH.

 Oke lanjut, masih sering dengar peribahasa “banyak anak banyak rejeki”??? Ya begitulah, sudah tidak kaget lagi bagi semua orang terlebih pendamping PKH, bahwa sebagian besar bagi para peserta PKH ‘banyak anak banyak rejeki’. Begitu pula di Kecamatan Mergangsan, yang mana sebenarnya peribahasa ‘banyak anak banyak rejeki’ ada di mana-mana. Salah satu contohnya anak dari Ibu Sri Rejeki. Berada di daerah Dipowinatan, Kelurahan Keparakan, ibu Sri Rejeki mempunyai 6 orang anak. Yang mana yang paling besar duduk di bangku kuliah dengan biaya beasiswa yang diperoleh karena kepintaran anak tersebut. Lalu yang kedua dan ketiga SD dan SMP, selanjutnya yang keempat dan kelima TK dan yang terakhir balita. Lalu sempat terbersit dipikiranku untuk bertanya pada ibunya :“Bu mboten repot nggeh anaknya banyak ngonten niki?” Jawab sang ibu dengan santai : ya memang begini.... asal bisa makan sehari-hari gak apa-apa mbak. Habisnya kalau malam-malam gak ada hiburan?! Jadinya ya begitu mbak...hehehehehe....” “Batin atiku : Capek deh”. Tetapi kalau di rata-rata, ya cukup lumayanlah dikarenakan rekor paling besar punya anak banyak yaitu Bu Sri Wahyuni Lestari dengan 8 anak yang mana rumahnya masih ngindung dan hanya berukuran 6x3 meter, dimana segalanya dilakukan disitu mulai dari makan, mandi, aktifitas belajar, memasak dan lain-lain.... Wow amazing...... tetapi itulah ciri khas dari peserta PKH.

Tetapi aku ingin juga berbagi dengan teman-teman, bahwa tidak semuanya itu negatif tetapi ada juga yang positif. Nilai kehidupan yang bisa aku petik dan membuat my spirit and inovation, semangat 45!!! Hehe......... Berada di Bantaran Kali Code ada seorang perempuan yang bekerja sebagai buruh cuci dirumah tetangganya, tidak hanya itu saja kadang untuk mencukupi kebutuhan hidup anak dan suaminya yang tidak bisa apa-apa lagi alias sakit, kadang beliau juga bekerja sebagai buruh bangunan. Apa?? Tidak hanya itu saja?? Ternyata kadang beliau harus bangun pagi-pagi untuk membuat gorengan untuk dititipkan di warung-warung sebelah rumahnya ataupun dipasar.. Beliau adalah bu Nunik alias bu Sunarni. Saluuuuuuttttttttt benerrrrrrrr.............

Eits, ada lagi nih cerita yang lain. Penasaran??? Check it out... “Huft capek”,itu yang aku katakan di saat aku menangani salah satu anak peserta PKH sebut saja dia Bagus (bukan nama sebenarnya). Bagus lahir pada tanggal 09 Agustus 1994, saat ini berusia 17 tahun dan bertempat tinggal di daerah Bintaran Kidul MG I/159. Kata ibunya sih dinamakan Bagus itu biar berperilaku bagus, sae, apik sakkabehe, eh malah ndableg e pollll (nakal banget) nganti judeg le ngerasake (sampai pusing aku yang merasakan). Itu kata ibu, tetapi kalau kata bapaknya uwis mbak luweh (udah mbak terserah) alias bahasa gaulnya no comment menghadapi anak Bagus yang satu ini. Sering keluar masuk penjara sampai 3 kali dengan kasus yang berbeda : (1). Pada tanggal 24 November 2010, Bagus melakukan perampasan hp, perampasan uang. Dan dihukum 2,5 bulan penjara. (2). Pada tanggal 28 Januari 2011, Bagus melakukan perampasan laptop. Dan dihukum 5 bulan penjara. (3). Pada tanggal 24 Oktober 2011, Bagus melakukan penganiayaan di sebuah SMK. Dan dihukum 7 bulan penjara.

Hebattt ya?? Anak masih kecil gitu looo.... Awal pertama yang aku (pendamping PKH Kecamatan Mergangsan) lakukan sudah menawarkan Bagus di kejar paket B dengan berbagai cara dan bagaimanapun harus bisa membujuk Bagus untuk mengikuti kejar paket, karena aku merasa iba pada orang tuanya yang mana Ibunya hanya sebagai penjual sate keliling dan kalau dihitung yang dijual beda dengan sate-sate yang lainnya hanya 20 tusuk, katanya sih ya tidak ada modal. Dan bapaknya hanya sebagai tukang becak. Rumahnya hanya berukuran 4,5x3meter... ckckckckckkck...amazing.... Pertama kali aku jemput, aku hantarkan sampai di sekolah yang mengampu kejar paket untuk Bagus bersekolah dan aku jelaskan sedikit tentang pentingnya pendidikan. “iya aku mau mbak”kata si Bagus. “oke, kalau begitu mulai minggu depan kamu masuk kejar paket”, kataku. Kejar paket disini dilaksanakan 3x dalam seminggu yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat pukul 18.00. Hari pertama aku mengantarkan si Bagus sekolah, ya kayak kakak mengantar adiknya gitu ceritanya. Hehehehe... Hari kedua Bagus diantarkan oleh ayahnya.

Selang berjalan beberapa saat, ibunya menelepon saya.”mbak, anakku uwis metu meneh, saiki malah arep digebukin tonggone mergane arep nyolong kendaraan meneh. Aduh mbak judeg aku. Mbak, leboke wae neng panti mbak. Iso-iso mati gasik aku”.”Hadeh capek deh” batinku. Mendengar ibunya mengeluh seperti itu aku terharu, akhirnya aku mencoba bertanya-tanya kepada orang Dinas kira-kira kalau ada kejadian seperti itu harus bagaimana?? Dan disarankan aku harus membuat kronologis dari si anak. Setelah itu aku buat, dan diberikan kepada Dinas Sosial Provinsi seksi Perlindungan Anak. Selang beberapa saat ada kabar dari Dinas untuk membawa si Bagus ke PSPP yaitu Panti yang menangani anak yang bermasalah hukum. Tepatnya hari Sabtu bulan September , aku mengantarkan si Agus dengan membawa tas ranselnya berisi sepatu, buku, dan pakaian. Dan disitu aku bertanya“mantap lo kowe le ora mencla-mencle meneh” dan katanya “iyo mbak”. Setelah itu dari pihak Dinas menjemput dan membawanya ke Panti. Dan harapan ibunya setelah dari panti, Bagus dapat merubah tingkah lakunya menjadi lebih baik.

Kepuasan batin ya itu yang aku dapat selama ini saat aku bekerja sebagai pendamping PKH, dimana aku bisa menolong sesamaku yang sangat membutuhkan. Ya walaupun terkadang fisik kita sampai kelelahan. Tetapi saat aku mempunya masalah dan beban berat, aku bisa melihat bahwa dibawahku ternyata masih banyak yang membutuhkan seperti para peserta PKH yang mana mereka bekerja keras untuk membanting tulang demi kelangsungan hidup, mereka saja semangatt kenapa kita tidak????? So,dont worry always move on....... PKH Mergangsan, Semangatku.......

            Sekian dan terimakasih.


Kantor Pelaksana PKH Pusat

Gedung D Kementerian Sosial RI

Jl. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat

+6221 3103591 (ex.2446)

Fax : +6221-3147474, 3925153

E-mail : pusat@pkh.kemsos.go.id